Survey WALHI Jakarta: Sosialisasi Dampak Buruk Kantung Belanja Plastik Sekali Pakai Belum Maksimal

Jakarta, 5 Februari 2021- Berdasarkan survey yang dilakukan Wahana Lingkungan Hidup Indonesia (WALHI) DKI Jakarta pada pemuda dengan usia 16 sampai 30 tahun yang tinggal di Jakarta, sebanyak 47,33 persen dari mereka tidak mendapatkan informasi mengenai dampak buruk penggunaan kantung belanja plastik sekali pakai (KBPSP) terhadap lingkungan dan Kesehatan manusia.

“Sosialiasi terkait dampak buruk penggunaan KBPSP menjadi penting, mengingat salah satu semangat yang digaungkan dalam Pergub DKI yang sudah berjalan lebih dari enam bulan ini adalah mengurangi dampak lingkungan yang diakibatkan limbah kantong plastik sekali pakai,” Kata Muhammad Aminullah, salah satu tim survey WALHI Jakarta.

Selain itu, dalam Peraturan Gubernur (Pergub) DKI Jakarta Nomor 142 tahun 2019 Tentang Kewajiban Penggunaan Kantung Belanja Ramah Lingkungan (KBRL) Pada Pusat Perbelanjaan, Toko Swalayan, dan Pasar Rakyat, para pengelola dan pelaku usaha di ketiga sektor itu wajib memberikan sosialisasi tersebut.

Dalam survey yang dilakukan Januari 2020 ini, WALHI Jakarta juga menemukan masih ada sektor usaha yang menyediakan KBPSP. Sebanyak 76,54 persen anak muda yang mengikuti survey mengatakan mereka masih melihat penggunaan KBPSP di pasar rakyat, 9,47 persen melihat di pusat perbelanjaan, dan 8,64 persen melihat di toko swalayan. Berdasarkan catatan WALHI Jakarta, hal ini disebabkan kurangnya sosialisasi yang dilakukan oleh pengelola pasar rakyat sehingga masih banyak pelaku usaha yang menyediakan KBPSP.

Sementara itu, hasil survey menunjukkan tren positif pada respon anak muda dimana sebanyak 97 persen responden mengatakan mereka sudah memiliki KBRL sendiri, hanya 3 persen yang mengatakan tidak memiliki KBRL.

Dalam hal kebiasaan, dari total responden, hanya 8,64 persen yang mengatakan tidak pernah membawa KBRL ketika beraktivitas selain belanja dan 41,56 persen yang jarang membawa KBRL ketika beraktivitas. Sisanya, sebanyak 26,75 persen mengatakan mereka sering membawa KBRL ketika beraktivitas dan 23,05 persen selalu membawa KBRL.

“Anak muda Jakarta memiliki memiliki peran yang sangat penting kedepannya, kalau anak mudanya Sudah memiliki cukup pemahaman dan gaya hidup hijaunya juga sudah tumbuh kita sebenarnya sudah melihat upaya upaya pengurangan sampah dan pencemaran lingkungan hidup,” Kata Tubagus Soleh Ahmadi, Direktur Eksekutif WALHI Jakarta.

WALHI Jakarta menarik kesimpulan bahwa pergub ini berjalan dan direspon cukup baik oleh anak muda DKI Jakarta. Meskipun demikian, ada substansi yang menurut kami belum diangkat secara maksimal, yaitu mengurangi dampak lingkungan dan Kesehatan manusia yang diakibatkan limbah plastik. Namun baik pusat perbelanjaan, toko swalayan, dan pasar rakyat yang diatur dalam pergub ini masih belum efektif memberikan informasi kepada publik tentang dampak negatif kantong plastik sekali pakai.